Perihal Dunia Maya — yang Membuat Saya Gila


Saya masih ingat bagaimana semua ini bermula. Sebuah patah hati menghampiri saya pada akhir tahun 2016. Seorang perempuan dengan gagahnya menolak saya — yang sama sekali tak menyangka akan mendapat penolakan. Di tengah kepatahan itu, saya mulai menulis di media sosial (tepatnya Instagram, Twitter, dan Wordpress) perihal patah hati dan bentuk cinta saya.

Tak lama, kebahagiaan kecil muncul. Saya mendapat respon positif dari orang-orang yang membaca tulisan saya. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan — yang akhirnya membuat saya mendapat banyak kenalan baru yang menyenangkan. Di sisi lain, perempuan yang sudah menolak saya, mencibir saya dengan kata-kata semacam “lebay”, “manusia galau”, dan sebagainya. Ia sejak awal memang tidak suka jika saya menulis. Namun, saya tak gentar. Saya tetap saja menuliskan setiap guncangan yang ada di hati saya.

Setelah beberapa bulan konsisten menulis di media sosial, saya perlahan sembuh. Kondisi hati saya membaik. Tak ada lagi sisa-sisa patah hati yang menganggu pikiran dan kegiatan saya.
Namun, saat itulah mimpi buruk saya dimulai.



Saya mulai kehilangan bahan untuk menulis tentang cinta. Sejujurnya, saya senang ketika tidak menulis tentang cinta. Saya bisa menyampaikan hal-hal lain perihal sosial, ekonomi, dan kondisi-kondisi lain yang sesuai dengan minat saya. Namun, ada satu hal yang membatasi saya: pujian.
Mereka yang sejak awal menyukai tulisan saya karena sering membahas tentang cinta, enggan memberikan komentar pada tulisan-tulisan saya dengan tema yang lain. Saya kemudian menjadi uring-uringan. Pujian yang sebelumnya banyak saya dapatkan, menjelma menjadi racun yang memabukkan.

Saya akhirnya berbohong. Saya menulis sesuatu yang tidak berdasarkan pada hati dan pikiran saya. Saya cenderung menerka-nerka apa yang disukai mereka (orang-orang yang kerap memuji tulisan saya). Pada saat yang sama, saya merasa seperti sampah. Saya tak lagi menulis berdasarkan hati, tetapi menulis berdasarkan kondisi pasar. Saya kehilangan rasa menyenangkan yang awalnya saya dapatkan dari menulis.

Ditambah lagi, selama saya menulis tentang cinta, saya harus berdamai dengan permintaan-permintaan dan pendapat yang menjengkelkan. Bayangkan, ketika saya menulis sesuatu yang tidak bertemakan cinta, ada yang berkomentar seperti ini: “Kak, tolong bikinin tulisan tentang …”

Atau, ketika saya menulis sesuatu yang mampu membuat orang lain merasa ‘galau’ (dalam hal ini, saya menulisnya dari hati), selalu saja ada yang berkomentar seperti ini: “Kak, jangan galau terus. Laki-laki tidak boleh galau terus. Tuhan tidak akan memberikan cobaan pada umat-Nya. Coba deh berharap sama Tuhan, jangan berharap sama manusia.”

Apa yang perlu saya lakukan untuk menanggapi dua kondisi di atas? Sejauh ini, saya hanya diam. Masih banyak orang yang belum mengerti bahwa menulis perasaan tidak bisa (atau mungkin bisa bagi orang lain) berdasarkan pesanan. Jujur, saya enggan menulis sesuatu yang tidak saya rasakan — dan cenderung tidak bermanfaat bagi orang lain. Lalu, ternyata masih banyak juga orang yang tidak mengerti bahwa tulisan-tulisan yang berisi kesedihan belum tentu seratus persen menggambarkan keadaan.

Saya senang berpuisi dan menulis hal-hal yang menyedihkan. Namun, bukan berarti hidup saya menyedihkan, dan bukan berarti saya selalu berpuisi ketika sedang melakukan percakapan.
Inilah alasan mengapa akhir-akhir ini dunia maya membuat saya gila. Saya paham bahwa saya bukan penulis besar. Bahkan, saya belum pantas disebut sebagai penulis. Namun, inilah yang saya rasakan selama menulis di media sosial.

Saya hampir gila karena pujian. Saya hampir gila karena pesanan. Saya hampir gila karena dianggap menyedihkan. Saya hampir gila karena semua media sosial saya diikuti oleh mantan gebetan.

— Dionisius Dexon

Catatan: semua ini adalah alasan mengapa saya memutuskan untuk menulis di Medium.

Komentar